Oleh: Sirajudin Nur
(Warga Batam sejak 1979)
Batam, investigasi.info - Hari ini saya membaca dan mendengar langsung aspirasi warga Tanjung Sengkuang yang menyuarakan krisis air bersih. Aspirasi itu lahir bukan dari kepentingan politik, melainkan dari kebutuhan paling dasar manusia: air untuk hidup.
Perlu ditegaskan sejak awal, air bukan isu politik. Air adalah hak dasar. Ketika air tidak mengalir ke rumah-rumah warga, yang terancam bukan elektabilitas, melainkan martabat kemanusiaan.
Karena itu, saat warga datang menyampaikan keluhan, yang mereka harapkan bukan kecurigaan, apalagi pertanyaan bernada merendahkan seperti, “Bapak titipan dari mana?” Pertanyaan semacam itu bukan hanya melukai perasaan warga, tetapi juga mencerminkan cara pandang yang keliru terhadap rakyat.
Dalam negara yang beradab, suara warga tidak pernah bisa dianggap sebagai “titipan”. Hak hidup layak, termasuk akses air bersih, bukanlah pemberian siapa pun. Ia bukan hadiah, bukan belas kasihan, dan bukan hasil lobi. Ia adalah hak yang melekat pada setiap warga negara.
Saya meyakini setiap lembaga negara dibentuk untuk melayani, bukan untuk mencurigai rakyatnya sendiri. Cara negara merespons aspirasi publik sering kali jauh lebih penting daripada seberapa cepat janji kebijakan disampaikan. Sebab di situlah ukuran empati, kedewasaan, dan martabat kekuasaan diuji.
Krisis air bersih di Batam harus diselesaikan secara serius, terukur, dan cepat. Warga tidak bisa terus diminta bersabar tanpa kepastian. Namun penyelesaian teknis saja tidak cukup. Bahasa, sikap, dan cara berinteraksi dengan masyarakat juga harus dijaga. Ketika empati hilang, kepercayaan publik ikut mengering-seperti air yang tak lagi mengalir.
Pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan perlu menyadari bahwa mendengar keluhan warga bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kewajiban. Menghormati suara rakyat tidak akan mengurangi kewibawaan negara, justru menguatkannya.
Semoga peristiwa hari ini menjadi pengingat bersama: bahwa membangun Batam bukan hanya soal infrastruktur, proyek, dan angka-angka di atas kertas. Membangun Batam adalah tentang menghormati manusia yang hidup, bertahan, dan berharap di dalamnya.
Catatan Utama:
Pemerintah Kota Batam dan BP Batam seharusnya memfokuskan prioritas pada pelayanan dasar:
air bersih, pengelolaan sampah, perbaikan jalan pemukiman, sanitasi sekolah, serta penanganan banjir.
Semua itu menyangkut hajat hidup publik paling mendasar.
Pada akhirnya, publik menilai dari hasil, bukan dari dalih.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar