Iklan

DAFTAR WARTAWAN DISINI oleh redaksi investigasi
Mr w
Jumat, 02 Januari 2026, Januari 02, 2026 WIB
Last Updated 2026-01-02T15:37:33Z

Pembangunan atau Perusakan? Catatan Kritis atas Cut and Fill dan Reklamasi di Batam


Batam, investigasi. Info - Masifnya aktivitas cut and fill serta reklamasi yang terus terjadi di Kota Batam hari ini bukan lagi sekadar persoalan pembangunan, melainkan telah menjelma menjadi krisis kesadaran kolektif. Di balik jargon investasi, pertumbuhan ekonomi, dan modernisasi, lingkungan hidup perlahan tapi pasti dikorbankan. Bukit diratakan, hutan dibabat, pesisir ditimbun, aliran air berubah, dan ruang hidup masyarakat menyempit. Semua dilakukan seolah alam tidak memiliki hak untuk bertahan.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah pembangunan harus selalu dibayar dengan kehancuran lingkungan?

Apakah investasi layak disebut kemajuan jika meninggalkan bencana ekologis bagi generasi mendatang?

Batam adalah tanah harapan, tetapi juga tanah yang rapuh. Daya dukung lingkungannya terbatas. Ketika cut and fill dilakukan tanpa kendali dan reklamasi berjalan tanpa kajian lingkungan yang transparan dan akuntabel, maka yang sedang kita bangun sesungguhnya adalah kerentanan. Longsor, banjir, abrasi, rusaknya ekosistem laut, hilangnya mata pencaharian nelayan, hingga krisis air bersih bukan lagi ancaman masa depan—tetapi kenyataan yang mulai dirasakan hari ini.

Saya, Wisnu Hidayatullah, S.E., Ketua Gugus Hukum Lingkungan Hidup Kepulauan Riau dan Ketua DPW GIAS Kepri, menyatakan dengan tegas bahwa perjuangan menjaga lingkungan hidup tidak boleh berhenti. Ini bukan sekadar sikap pribadi, tetapi panggilan nurani. Saya memilih untuk terus bersuara, sekalipun risiko harus dihadapi, tekanan datang dari berbagai arah, dan kepentingan besar mencoba membungkam kebenaran.

Bagi saya, hidup yang berarti adalah hidup yang berpihak. Berpihak pada alam yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Berpihak pada masyarakat kecil yang suaranya sering diabaikan. Berpihak pada anak cucu kita agar kelak mereka tidak mewarisi tanah yang rusak, laut yang mati, dan udara yang tercemar.

Perjuangan lingkungan bukan tentang menolak pembangunan, tetapi menolak keserakahan. Kita tidak anti-investasi, tetapi menuntut investasi yang taat hukum, beretika, dan berwawasan lingkungan. Pembangunan yang benar adalah pembangunan yang menghormati batas alam, mematuhi regulasi, serta menempatkan keselamatan rakyat di atas keuntungan sesaat.

Sebagai anak negeri Melayu, saya percaya bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan titipan. Tanah, laut, dan hutan adalah warisan leluhur yang wajib dijaga, bukan dijual murah atas nama pertumbuhan ekonomi. Kearifan lokal Melayu selalu mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam—nilai yang kini semakin tergerus oleh ambisi dan keserakahan.

Jika hari ini kita memilih diam, maka kita sedang bersekongkol dengan kerusakan. Jika hari ini kita membiarkan pelanggaran terjadi, maka kita sedang menyiapkan bencana bagi masa depan. Oleh karena itu, diam bukan pilihan.

Saya akan terus berdiri, bersuara, dan berjuang. Bukan karena ingin dikenal, tetapi karena tanggung jawab moral tidak bisa ditunda. Perjuangan ini mungkin panjang dan melelahkan, namun sejarah selalu mencatat bahwa perubahan besar lahir dari keberanian orang-orang yang memilih tidak tunduk pada ketidakadilan.

Karena jika bukan kita yang lahir dan besar di tanah negeri Melayu ini yang menjaga alamnya, maka siapa lagi?

Dan jika bukan hari ini kita melawan kerusakan, maka kapan lagi?

Perjuangan peduli lingkungan adalah perjuangan kemanusiaan.

Menjaga alam berarti menjaga kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar