Iklan

DAFTAR WARTAWAN DISINI oleh redaksi investigasi
Mr w
Senin, 09 Februari 2026, Februari 09, 2026 WIB
Last Updated 2026-02-08T17:23:43Z

Demi Sawit, Hutan Lingga Tergerus: Air Bersih dan Ekonomi Rakyat Terancam


Lingga, investigasi. Info – Gelombang keresahan melanda masyarakat Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, menyusul maraknya pembabatan hutan yang diduga dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Aktivitas tersebut dinilai mengancam keberlanjutan lingkungan sekaligus memukul langsung mata pencaharian mayoritas warga yang bergantung pada sumber daya alam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lingga, lebih dari 90 persen penduduk Lingga tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan, pelaku kelong, petani tradisional, serta pekerja kayu dan kapal kayu. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai penopang kehidupan sehari-hari.

Hutan di Lingga selama ini menjadi penyedia utama kayu pancang kelong, bahan pembuatan kapal kayu, papan dan broti untuk rumah warga, serta kayu bakar untuk pengolahan hasil laut seperti bilis dan ikan asin. Pembabatan hutan secara masif dikhawatirkan akan memutus rantai kehidupan masyarakat pesisir.

“Kalau hutan habis dibabat, kami mau cari kayu pancang kelong ke mana lagi? Tukang gesek mau cari kayu buat papan dan broti ke mana? Kayu api buat rebus bilis saja sekarang sudah makin susah,” ungkap salah seorang warga Lingga dengan nada kecewa.

Ancaman Serius terhadap Air Bersih dan Ekosistem

Selain berdampak pada ekonomi rakyat, pembabatan hutan juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap ketersediaan air bersih. Berdasarkan karakteristik geografis Lingga yang didominasi pulau kecil dan perbukitan rendah, kawasan hutan berperan penting sebagai daerah resapan air.

Data Dinas terkait menunjukkan bahwa sebagian besar desa di Lingga masih mengandalkan sumber air permukaan dan air tanah dangkal yang sangat bergantung pada kondisi hutan. Jika tutupan hutan terus berkurang, risiko kekeringan, intrusi air laut, dan krisis air bersih akan semakin besar.

“Kalau hutan rusak, dari mana lagi kami dapat air bersih? Ini bukan cuma soal hari ini, tapi soal masa depan anak cucu kami,” ujar warga lainnya.

Ancaman Serius terhadap Air Bersih dan Ekosistem

Sejumlah tokoh masyarakat menilai pengembangan perkebunan sawit di Lingga tidak sejalan dengan karakter wilayah kepulauan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kepulauan Riau memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas, terutama pada pulau-pulau kecil yang rentan terhadap kerusakan ekosistem.

Warga mempertanyakan manfaat ekonomi yang dijanjikan dari sawit, karena dinilai tidak menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan dan berpotensi hanya menguntungkan segelintir pihak.

“Yang dapat untung siapa? Masyarakat cuma dapat debu, air keruh, hutan habis. Demi uang yang tak seberapa, hutan yang luasnya tak seberapa itu rela dihabiskan,” kata seorang tokoh masyarakat Lingga.


Desakan Evaluasi dan Penghentian Aktivitas

Masyarakat mendesak pemerintah daerah, DPRD, serta pemerintah pusat untuk segera:

Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perizinan perkebunan sawit

Menghentikan sementara aktivitas pembabatan hutan

Membuka data AMDAL dan izin lingkungan secara transparan

Melibatkan masyarakat adat dan nelayan dalam setiap pengambilan keputusan

Warga menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan, namun menuntut pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan tidak merampas ruang hidup masyarakat lokal.

“Lingga ini hidup dari laut dan hutan. Kalau dua-duanya rusak, habislah kami,” tutup warga dengan mata berkaca-kaca.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak perusahaan maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan masyarakat dan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar