Batam,investigasi.info— Krisis air bersih masih menjadi persoalan laten yang membelit Kota Batam. Di tengah geliat pembangunan dan klaim kemajuan infrastruktur, ribuan warga justru masih kesulitan mengakses air bersih yang layak. Di sejumlah wilayah, pasokan air tidak stabil, bahkan di beberapa kawasan kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi nyata.
Tokoh masyarakat Kepulauan Riau, Sirajudin Nur, angkat bicara. Dalam wawancara eksklusif investigasi, Sirajudin menegaskan bahwa persoalan air bersih tidak bisa lagi dipandang sebagai gangguan teknis semata, melainkan telah menyentuh hak dasar warga negara.
“Kesulitan air bersih bukan sekadar ketidaknyamanan. Ini menyangkut hak dasar warga. Pengelola air minum harus segera melakukan revitalisasi pipa distribusi dan membangun jalur baru yang sesuai dengan pertumbuhan kebutuhan masyarakat,” tegas Sirajudin kepada media ini.
Menurut Sirajudin, akar persoalan krisis air di Batam diduga kuat bukan hanya pada ketersediaan sumber air, tetapi pada jaringan distribusi yang sudah usang dan tidak lagi relevan dengan perkembangan kota. Ia menilai, banyak pipa distribusi yang telah berumur puluhan tahun namun belum pernah diremajakan secara menyeluruh.
“Diduga kuat, sejumlah jaringan pipa di Batam sudah tua dan mengalami penurunan fungsi. Akibatnya, distribusi air tidak merata dan sering terganggu. Kalau jalur distribusi tidak diperbarui, penambahan kapasitas sumber air saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah,” ungkapnya.
Sirajudin juga mengkritisi pola pembangunan yang dinilai lebih menonjolkan proyek fisik dan investasi, namun mengabaikan kebutuhan paling mendasar masyarakat.
“Air bersih adalah hak warga, bukan fasilitas tambahan. Kalau hak ini tidak dipenuhi, lalu apa arti pembangunan yang selama ini dibanggakan?” pungkasnya.
Krisis air bersih yang terus berulang ini sekaligus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pengelola air minum di Batam. Tanpa langkah konkret berupa revitalisasi total jaringan pipa distribusi, keluhan warga dipastikan akan terus berulang, sementara kepercayaan publik kian terkikis.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar