Makassar-Investigasi- (2/3/2026) – Media online Jejak Terkini kembali menjadi sorotan publik terkait dugaan pelanggaran etika jurnalistik yang dilakukan dalam pemberitaan insiden di Masjid Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 27 Februari 2026. Kasus ini semakin meruncing setelah adanya pengakuan dari salah satu wartawannya yang mengakui kesalahan dalam memuat berita tanpa konfirmasi kepada saksi maupun narasumber, bahkan diduga kuat terindikasi menyebarkan berita bohong dan pencemaran nama baik.
Dalam berita yang dimuat Jejak Terkini dengan judul yang menyebutkan dugaan pemukulan terhadap seorang jurnalis oleh oknum wartawan belum terverifikasi, tidak ditemukan adanya narasumber maupun saksi yang dikonfirmasi secara langsung. Selain itu, diketahui bahwa Pimpinan Redaksi Jejak Terkini, Rosmini dg Kebo, serta wartawan yang menulis berita tersebut, Fajar Ahmad Wahyuddin, tidak hadir di lokasi kejadian saat insiden terjadi.
Media online Fakta 62 dan beberapa media lainnya telah melakukan konfirmasi langsung kepada Fajar Ahmad Wahyuddin. Melalui percakapan di WhatsApp dan telepon Fajar mengakui kesalahannya. Ia menyatakan bahwa ia tidak melakukan konfirmasi kepada saksi maupun narasumber sebelum mengunggah berita di media Jejak Terkini. Bukti panggilan telepon keluar atas nama Fajar juga telah diperoleh sebagai bukti pengakuan tersebut.
Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran etika jurnalistik yang jelas, bahkan diduga masuk ranah pidana. Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, menyebarkan berita bohong yang menimbulkan kerugian bagi orang lain atau ketertiban umum diatur dalam Pasal 28 Ayat (1) UU ITE dan Pasal 14 UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Sementara itu, pencemaran nama baik yang dilakukan melalui media diatur dalam Pasal 310 dan 311 KUHP serta Pasal 28 Ayat (2) UU ITE jika menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan.
Fakta 62 dan media lainnya yang mempublikasikan informasi ini menegaskan bahwa hak untuk mengangkat berita yang benar dan valid bagi publik adalah sangat penting. Mereka juga menilai bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh Jejak Terkini seharusnya dikenakan sanksi sesuai dengan Undang-Undang Pers maupun hukum pidana yang berlaku.
Meskipun telah ada pengakuan dari wartawannya, Jejak Terkini justru kembali memuat berita yang seolah-olah menyatakan bahwa mereka tidak bersalah dalam pemberitaan sebelumnya. Hal ini menuai kritik dari berbagai pihak. Pihak-pihak yang menyoroti kasus ini menilai bahwa Pimpinan Redaksi Rosmini dg Kebo seharusnya memberikan contoh yang baik kepada bawahannya dengan mematuhi Undang-Undang Pers, kode etik jurnalistik, serta hukum yang berlaku agar tidak merugikan pihak lain.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Jejak Terkini maupun Pimpinan Redaksi Rosmini dg Kebo terkait sorotan dan tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Kasus ini pun masih terus menjadi perbincangan dan akan terus dipantau perkembangannya oleh masyarakat dan dunia pers.
Jurnalist"(Kul indah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar